Gereja Baptis Papua Sudah Bersatu Kembali! Giliran Sekarang Gereja Kemah Injil Papua, Bersatu Kapan?

Avatar of LINTAS PAPUA TENGAH
LINTAS PAPUA TENGAH
23 Jul 2026 13:28
Trending 0 378
4 menit membaca

Oleh: Sam Gobay

Bersatunya kembali Gereja Baptis Papua merupakan kabar yang membawa sukacita bagi banyak orang percaya di Tanah Papua. Peristiwa ini bukan sekadar penyatuan sebuah organisasi gereja, melainkan sebuah kesaksian bahwa perbedaan, konflik, dan perpecahan bukanlah akhir dari perjalanan umat Tuhan. Ketika kasih, kerendahan hati, dan pengampunan ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok, maka jalan menuju rekonsiliasi selalu terbuka.

Perpecahan, dalam bentuk apa pun, selalu meninggalkan luka. Bukan hanya bagi para pemimpin gereja, tetapi juga bagi jemaat yang selama bertahun-tahun merasakan dampaknya. Energi yang seharusnya dipakai untuk memberitakan Injil sering kali habis untuk mempertahankan perbedaan. Waktu, tenaga, dan sumber daya yang semestinya digunakan membangun pelayanan justru tersita oleh konflik yang berkepanjangan. Karena itu, ketika sebuah gereja mampu kembali bersatu, sesungguhnya yang dipulihkan bukan hanya struktur organisasinya, tetapi juga semangat persaudaraan dan panggilan bersama untuk melayani Tuhan.

Keberhasilan Gereja Baptis Papua menjadi inspirasi bagi gereja-gereja lain di Tanah Papua. Tidak berlebihan apabila kemudian muncul pertanyaan yang patut direnungkan bersama: jika Gereja Baptis Papua telah mampu bersatu kembali, kapan Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua juga dapat mewujudkan kesatuan yang sama? Pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk menyalahkan siapa pun atau membandingkan satu gereja dengan gereja lainnya. Sebaliknya, pertanyaan ini merupakan ajakan untuk merenungkan kembali makna kesatuan dalam tubuh Kristus.

Bersatu kembali bukan berarti menghapus sejarah atau melupakan berbagai persoalan yang pernah terjadi. Justru sebaliknya, rekonsiliasi yang sejati lahir dari keberanian mengakui kesalahan, membuka ruang dialog, saling mendengarkan, serta memiliki kerendahan hati untuk saling memaafkan. Kesatuan yang dibangun di atas kejujuran akan jauh lebih kuat dibandingkan kesatuan yang hanya dibangun demi kepentingan sesaat.

Keuntungan dari sebuah kesatuan sangat besar. Ketika gereja berjalan bersama, kekuatan pelayanan menjadi lebih besar, potensi sumber daya manusia dapat dimanfaatkan secara maksimal, dan program pelayanan menjadi lebih efektif. Tidak ada lagi persaingan yang melemahkan pekerjaan Tuhan. Jemaat memperoleh kepastian, masyarakat melihat teladan persaudaraan, dan generasi muda belajar bahwa konflik dapat diselesaikan dengan kasih, bukan dengan permusuhan.

Lebih jauh lagi, gereja yang bersatu akan memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat. Pelayanan pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pembinaan generasi muda, hingga penginjilan akan berjalan lebih efektif apabila dilakukan dalam semangat kebersamaan. Kesatuan juga memperkuat suara gereja dalam menyuarakan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan perdamaian bagi masyarakat Papua.

Namun demikian, jalan menuju persatuan tentu bukan tanpa tantangan. Bersatu kembali menuntut pengorbanan ego, kepentingan pribadi, dan keinginan untuk selalu merasa benar. Proses membangun kembali kepercayaan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Luka lama mungkin masih membekas, sementara setiap pihak telah memiliki cara pandang dan pengalaman yang berbeda setelah sekian lama berjalan sendiri-sendiri. Semua itu hanya dapat diatasi apabila setiap orang memiliki hati yang rendah dan mengutamakan kepentingan pelayanan dibandingkan kepentingan kelompok.

Dalam iman Kristen, kesatuan bukan sekadar pilihan organisasi, melainkan panggilan rohani. Yesus Kristus sendiri berdoa agar semua orang percaya menjadi satu sebagaimana Bapa dan Anak adalah satu. Doa tersebut mengingatkan bahwa kesatuan merupakan bagian dari kesaksian gereja kepada dunia. Ketika gereja hidup dalam kasih dan persaudaraan, dunia akan melihat kemuliaan Kristus melalui kehidupan umat-Nya.

Karena itu, keberhasilan Gereja Baptis Papua hendaknya menjadi sumber inspirasi dan harapan. Setiap gereja memiliki sejarah dan dinamika yang berbeda, tetapi semua memiliki tujuan yang sama, yaitu memuliakan Tuhan dan memberitakan Injil. Tidak ada rekonsiliasi yang lahir tanpa keberanian membuka hati. Tidak ada persatuan yang bertahan tanpa pengampunan. Dan tidak ada masa depan yang kuat tanpa kemauan untuk berjalan bersama.

Harapan agar Gereja Kemah Injil di Tanah Papua suatu saat dapat kembali bersatu bukanlah harapan yang mustahil. Selama masih ada kasih kepada Kristus, selama masih ada kerinduan untuk melihat gereja bertumbuh, dan selama masih ada kerendahan hati untuk berdialog, maka kesempatan menuju rekonsiliasi akan selalu ada. Sebab pada akhirnya, yang terutama bukanlah siapa yang menang atau siapa yang kalah, melainkan bagaimana gereja dapat kembali menjadi satu tubuh yang melayani Tuhan dengan kasih, damai sejahtera, dan semangat persaudaraan.

Semoga semangat persatuan yang telah ditunjukkan oleh Gereja Baptis Papua menjadi inspirasi bagi seluruh gereja di Tanah Papua. Sebab gereja yang bersatu akan menjadi lebih kuat dalam pelayanan, lebih kokoh dalam kesaksian, dan lebih besar dampaknya bagi masyarakat serta kemuliaan nama Tuhan.

Jayapura, 18 Juli 2026

Sam Gobay

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x