
Jusuf-kalla,mantan wakil Presiden,TIMIKA – Pernyataan yang disampaikan oleh Jusuf Kalla (JK) dalam sebuah forum akademik di Universitas Gadjah Mada (UGM) menuai respons keras dari berbagai kalangan, khususnya tokoh adat di Tanah Papua. Salah satu tanggapan tegas datang dari Sam Gobay, tokoh adat Papua Selatan dari Suku Besar Mee, yang secara terbuka menyebut pernyataan tersebut sebagai keliru dan konyol.
Pernyataan JK yang menyinggung adanya ajaran dalam agama Islam dan Kristen terkait tindakan menewaskan orang dinilai oleh Sam Gobay sebagai sebuah bentuk kekeliruan serius dalam memahami esensi ajaran agama. Ia menegaskan bahwa agama, khususnya Kristen, tidak pernah mengajarkan kekerasan sebagai jalan hidup, apalagi pembunuhan.
Dalam keterangannya kepada media di Timika, Sam Gobay menyampaikan bahwa pernyataan tersebut tidak hanya salah secara teologis, tetapi juga berpotensi memicu konflik sosial di tengah masyarakat yang hidup dalam keberagaman. Ia menilai, narasi semacam itu sangat berbahaya jika tidak segera diluruskan.
“Menurut ajaran Kristen dalam Alkitab, hal itu sama sekali tidak benar. Justru pernyataan seperti itulah yang menjadi provokator yang memecah belah masyarakat,” tegas Sam Gobay dengan nada serius.
Ia menambahkan bahwa Alkitab sebagai kitab suci umat Kristen secara jelas mengajarkan kasih, pengampunan, dan perdamaian. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi utama dalam kehidupan umat Kristen di seluruh dunia, termasuk di Tanah Papua yang dikenal sebagai wilayah dengan kehidupan religius yang kuat.
Menurut Sam Gobay, pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama seringkali muncul akibat penafsiran yang tidak utuh atau bahkan dipengaruhi oleh kepentingan tertentu. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan pandangan yang berkaitan dengan agama, terutama bagi tokoh publik yang memiliki pengaruh luas.
“Pendapat seperti itu harus diluruskan. Jangan mencampuradukkan agama dengan hal-hal yang bertujuan meresahkan masyarakat. Itu adalah pemikiran yang sangat konyol dan tidak mencerminkan pemahaman yang benar tentang ajaran agama,” ujarnya.

foto:Sam Gobay
Dewan Adat Suku Mee Papua Selatan
Lebih lanjut, Sam Gobay menekankan bahwa agama pada dasarnya adalah sumber nilai moral yang mengajarkan manusia untuk hidup dalam harmoni. Dalam konteks Papua, nilai-nilai keagamaan bahkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat adat.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat Papua, khususnya dari Suku Mee, sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan, persaudaraan, dan saling menghormati. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan ajaran agama yang menekankan pentingnya hidup dalam damai dan kasih.
“Di Papua, agama bukan alat untuk memecah belah, tetapi menjadi perekat yang memperkuat persatuan. Karena itu, setiap pernyataan yang berpotensi menimbulkan perpecahan harus dikritisi dan diluruskan,” kata Sam Gobay.
Pernyataan tegas ini juga mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas terhadap meningkatnya potensi disinformasi atau narasi yang dapat mengganggu stabilitas sosial. Dalam era informasi yang serba cepat, pernyataan dari tokoh publik dapat dengan mudah menyebar luas dan mempengaruhi persepsi masyarakat.
Sam Gobay menilai bahwa tanggung jawab moral seorang tokoh publik tidak hanya terletak pada apa yang disampaikan, tetapi juga pada dampak yang ditimbulkan dari pernyataan tersebut. Ia mengingatkan bahwa setiap kata yang diucapkan di ruang publik harus mempertimbangkan sensitivitas sosial, terutama dalam isu-isu yang berkaitan dengan agama dan kepercayaan.
Ia juga mengajak semua pihak, baik tokoh agama, tokoh masyarakat, maupun pemerintah, untuk bersama-sama menjaga kerukunan antarumat beragama. Menurutnya, kerukunan adalah modal utama dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera.
“Jangan sampai karena satu pernyataan yang tidak tepat, kita merusak harmoni yang telah dibangun dengan susah payah. Papua adalah rumah bagi banyak perbedaan, dan perbedaan itu harus dijaga, bukan dipertentangkan,” tegasnya.
Selain itu, Sam Gobay juga menyoroti pentingnya pendidikan yang benar mengenai ajaran agama. Ia menilai bahwa pemahaman yang mendalam terhadap nilai-nilai agama dapat menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai bentuk provokasi.
Ia berharap lembaga pendidikan, baik formal maupun informal, dapat berperan aktif dalam memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai ajaran agama. Dengan demikian, masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang menyesatkan.
Dalam konteks ini, peran perguruan tinggi seperti UGM juga menjadi sorotan. Sebagai institusi akademik, kampus diharapkan menjadi ruang yang mendorong diskusi yang sehat, berbasis pada ilmu pengetahuan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai objektivitas dan kebenaran.
Sam Gobay menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya bukanlah bentuk penolakan terhadap diskusi atau perbedaan pendapat, melainkan sebagai upaya untuk meluruskan pemahaman yang dinilai menyimpang. Ia percaya bahwa dialog yang konstruktif adalah kunci dalam menyelesaikan perbedaan.
“Perbedaan pendapat itu wajar, tetapi harus didasarkan pada fakta dan pemahaman yang benar. Jangan sampai kita menyampaikan sesuatu yang justru menyesatkan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang bersifat provokatif. Menurutnya, masyarakat harus lebih bijak dalam menyaring informasi, serta tidak langsung mempercayai setiap pernyataan yang beredar tanpa melakukan klarifikasi.
Dalam penutup pernyataannya, Sam Gobay kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga nilai-nilai persatuan dan perdamaian di Tanah Papua. Ia berharap semua pihak dapat belajar dari polemik ini dan lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan di ruang publik.
“Agama adalah jalan damai, bukan jalan kekerasan. Kita semua punya tanggung jawab untuk menjaga kesucian ajaran agama dari pemahaman yang keliru. Mari kita jaga Papua tetap damai, penuh kasih, dan saling menghormati,” pungkasnya.
Polemik ini menjadi pengingat bahwa dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, setiap pernyataan yang berkaitan dengan agama harus disampaikan dengan penuh tanggung jawab. Kesalahan dalam menyampaikan narasi tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga dapat mempengaruhi stabilitas sosial secara luas.
Dengan adanya klarifikasi dan tanggapan dari tokoh adat seperti Sam Gobay, diharapkan masyarakat dapat memperoleh perspektif yang lebih seimbang dan tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru. Lebih dari itu, momentum ini diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama untuk menjaga kerukunan dan persatuan di tengah keberagaman yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia.


Tidak ada komentar