
Damianus Donei.Ketua Panitia Pembanguna jalan ke Tibai-MabouOleh: Panitia Pembangunan Jalan dan Jembatan Tibai–Mabou
Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan merupakan salah satu kebutuhan dasar yang sangat penting dalam mendukung kehidupan masyarakat, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah pedalaman Papua Tengah. Jalan bukan hanya sekadar sarana transportasi, tetapi juga menjadi urat nadi pembangunan yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, pemerintahan, dan pembangunan sosial lainnya.
Kondisi inilah yang saat ini dirasakan oleh masyarakat Kampung Tibai dan Kampung Mabou, Distrik Siriwo, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Selama bertahun-tahun masyarakat hidup dalam keterbatasan akses transportasi akibat belum tersedianya jalan dan jembatan yang memadai untuk menghubungkan kedua kampung tersebut dengan pusat-pusat pelayanan masyarakat.
Masyarakat harus menghadapi berbagai kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Pada musim hujan, jalur yang ada menjadi berlumpur dan sulit dilalui. Beberapa sungai dan aliran air yang belum memiliki jembatan permanen juga menjadi hambatan utama yang sering mengganggu mobilitas masyarakat.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan, distribusi bahan makanan (BAMA), pengangkutan material bangunan, pemasaran hasil pertanian, serta berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan lainnya.
Menyadari pentingnya akses transportasi bagi masa depan masyarakat, warga Kampung Tibai dan Kampung Mabou tidak hanya menunggu bantuan pemerintah. Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, masyarakat berinisiatif membuka jalan secara swadaya dengan kemampuan yang sangat terbatas.
Melalui dukungan masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan pemerintah kampung, pekerjaan pembukaan badan jalan mulai dilakukan secara bertahap. Bahkan masyarakat rela mengumpulkan dana secara swadaya untuk menyewa alat berat excavator guna mempercepat pekerjaan yang selama ini menjadi impian masyarakat.

Ketua Panitia Pembangunan Jalan dan Jembatan Tibai–Mabou, Damianus Donei, mengatakan bahwa masyarakat telah menunjukkan keseriusan dan komitmen yang luar biasa dalam mendukung pembangunan tersebut.
Menurut Damianus Donei, hingga saat ini masyarakat telah berhasil membuka dan mengerjakan ruas jalan sepanjang kurang lebih 2,7 kilometer secara swadaya tanpa bantuan pemerintah.
“Kami masyarakat Tibai dan Mabou sudah bekerja dengan kemampuan yang kami miliki. Sampai hari ini kurang lebih 2,7 kilometer jalan sudah kami buka secara swadaya. Kami menyewa excavator, membeli BBM, dan bekerja gotong royong demi membuka akses bagi masyarakat,” ujar Damianus Donei.
Ia menjelaskan bahwa perjuangan masyarakat bukanlah hal yang mudah. Medan yang berat, kondisi perbukitan, hutan lebat, sungai, serta biaya operasional alat berat yang tinggi menjadi tantangan besar yang harus dihadapi masyarakat.
Meski demikian, semangat masyarakat tidak pernah surut karena mereka menyadari bahwa jalan tersebut merupakan harapan masa depan bagi generasi yang akan datang.
Damianus Donei menambahkan bahwa total ruas jalan yang direncanakan untuk menghubungkan Kampung Tibai dan Kampung Mabou mencapai sekitar 22,5 kilometer.
Karena itu, masyarakat sangat berharap adanya dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah agar pekerjaan yang telah dimulai dapat dilanjutkan hingga selesai.
“Kami memohon dengan hormat kepada Bapak Gubernur Papua Tengah agar dapat membantu masyarakat Tibai dan Mabou. Dari total kebutuhan sekitar 22,5 kilometer jalan, kami baru mampu membuka sekitar 2,7 kilometer. Sisanya masih membutuhkan perhatian dan bantuan pemerintah agar dapat diselesaikan,” katanya.
Menurut Damianus, pembangunan Jalan dan Jembatan Tibai–Mabou bukan hanya untuk kepentingan masyarakat saat ini, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang bagi generasi masa depan.
Ia menilai bahwa keberadaan jalan tersebut akan membuka berbagai peluang pembangunan yang selama ini sulit diwujudkan akibat keterbatasan akses transportasi.
Dalam bidang kesehatan, masyarakat sering mengalami kesulitan untuk menjangkau fasilitas kesehatan seperti puskesmas maupun rumah sakit. Tidak jarang pasien yang sakit harus dipikul secara manual atau berjalan kaki dalam waktu yang lama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Bagi ibu hamil yang akan melahirkan, kondisi tersebut sering menjadi ancaman serius terhadap keselamatan ibu dan bayi.
Dalam bidang pendidikan, para siswa dan guru juga menghadapi berbagai kesulitan akibat kondisi jalan yang belum memadai. Pada musim hujan, banyak siswa yang tidak dapat berangkat ke sekolah karena jalan menjadi berlumpur dan sulit dilalui.
Sementara dalam bidang ekonomi, masyarakat yang sebagian besar hidup dari sektor pertanian dan perkebunan mengalami kesulitan dalam memasarkan hasil produksi mereka.
Komoditas seperti ubi jalar, keladi, sayuran, buah-buahan, kopi, kakao, pinang, dan berbagai hasil pertanian lainnya sering mengalami hambatan distribusi karena tidak adanya akses jalan yang memadai.
Akibatnya, biaya transportasi menjadi sangat mahal dan harga jual hasil produksi masyarakat menjadi rendah.
Selain itu, masyarakat juga menghadapi kesulitan dalam mengangkut bahan makanan (BAMA) dan kebutuhan pokok sehari-hari. Harga beras, gula, minyak goreng, garam, tepung, mie instan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya menjadi lebih mahal dibandingkan daerah yang memiliki akses transportasi yang baik.
Hal yang sama juga terjadi dalam pembangunan rumah, gereja, sekolah, dan fasilitas umum lainnya. Hingga saat ini masyarakat masih harus mengangkut semen, besi, seng, paku, dan material bangunan lainnya secara manual dengan tenaga manusia.
Menurut Damianus Donei, apabila Jalan dan Jembatan Tibai–Mabou dapat dibangun secara baik, maka berbagai persoalan tersebut akan dapat teratasi secara bertahap.
Ia juga berharap pembangunan jalan tersebut dapat menjadi bagian dari program prioritas Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam membuka keterisolasian wilayah pedalaman.
“Kami tidak meminta untuk diri kami sendiri. Jalan ini untuk masyarakat, untuk anak-anak sekolah, untuk pasien yang sakit, untuk petani, untuk gereja, dan untuk masa depan generasi kami. Karena itu kami memohon dengan hormat kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah agar dapat membantu kami menyelesaikan pembangunan Jalan dan Jembatan Tibai–Mabou,” tegas Damianus Donei.
Masyarakat Kampung Tibai dan Kampung Mabou meyakini bahwa pembangunan Jalan dan Jembatan Tibai–Mabou akan menjadi salah satu langkah strategis dalam mempercepat pembangunan Distrik Siriwo secara keseluruhan.
Keberadaan jalan tersebut tidak hanya akan memperlancar mobilitas masyarakat, tetapi juga membuka akses terhadap pendidikan, kesehatan, ekonomi, listrik kampung, telekomunikasi, serta berbagai program pembangunan lainnya.
Di tengah semangat pembangunan Papua Tengah yang terus berkembang, masyarakat Tibai dan Mabou berharap agar suara mereka dapat didengar dan mendapat perhatian dari pemerintah.
Mereka percaya bahwa kehadiran pemerintah melalui pembangunan jalan dan jembatan merupakan bentuk nyata pelayanan kepada masyarakat yang selama ini berada di wilayah pedalaman.
Melalui artikel ini, masyarakat Kampung Tibai dan Kampung Mabou kembali menyampaikan harapan besar kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah agar pembangunan Jalan dan Jembatan Tibai–Mabou dapat segera direalisasikan demi membuka keterisolasian wilayah, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi Papua Tengah.
“Kami sudah memulai dengan swadaya. Kami sudah membuka 2,7 kilometer jalan. Kini kami memohon dengan hormat kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah untuk membantu melanjutkan pembangunan 22,5 kilometer Jalan dan Jembatan Tibai–Mabou demi kesejahteraan masyarakat dan masa depan generasi kami.” — Damianus Donei, Ketua Panitia Pembangunan Jalan dan Jembatan Tibai–Mabou.


Tidak ada komentar