

Timika, 6 Agustus 2026 – Ketua Dewan Adat Suku Mee Papua Selatan, Sam Gobay, menyampaikan pernyataan resmi menyusul insiden penembakan yang terjadi di kawasan Kali Kabur, Distrik Woniki, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, pada Minggu (2/8/2026) malam sekitar pukul 19.30 WIT. Peristiwa tersebut mengakibatkan lima orang meninggal dunia dan kembali menimbulkan duka mendalam bagi masyarakat Papua.
Dalam keterangannya, Sam Gobay mengaku menerima kabar tersebut dengan rasa sedih dan prihatin yang mendalam. Ia menilai setiap korban jiwa merupakan kehilangan besar, bukan hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Papua.
Berdasarkan informasi yang berkembang, Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom, menyampaikan bahwa pihaknya menerima laporan dari pimpinan pasukan TPNPB Kodap XXVIII Yambi Batalyon Yamo yang mengklaim bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Namun demikian, Sam Gobay menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan serta upaya menghadirkan perdamaian di Tanah Papua.
Atas nama Dewan Adat Suku Mee Papua Selatan, Sam Gobay menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga korban serta masyarakat Kabupaten Tolikara.
Menurutnya, setiap nyawa manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Tidak ada keluarga yang menginginkan kehilangan anggota keluarganya akibat konflik bersenjata.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga yang berduka. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kekuatan, penghiburan, dan damai sejahtera kepada mereka yang ditinggalkan,” ujar Sam Gobay.
Sam Gobay menegaskan bahwa berbagai persoalan yang dihadapi Papua tidak akan pernah terselesaikan melalui kekerasan maupun penggunaan senjata.
Menurutnya, konflik yang terus berlangsung selama bertahun-tahun hanya meninggalkan penderitaan, trauma, serta menghambat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua.
“Kita sudah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang konflik. Setiap kali terjadi penembakan, yang menjadi korban adalah anak-anak Papua sendiri. Tidak ada persoalan yang dapat diselesaikan melalui pertumpahan darah. Kekerasan hanya akan memperpanjang penderitaan dan melahirkan dendam yang berkepanjangan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa persoalan keadilan, kesejahteraan, hak-hak masyarakat adat, maupun pembangunan di Papua harus diselesaikan melalui pendekatan yang bermartabat, dialog yang setara, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Dalam pernyataannya, Sam Gobay mengajak seluruh pihak untuk menghentikan aksi kekerasan dan membuka ruang dialog yang konstruktif.
Ia juga meminta agar dilakukan penyelidikan yang transparan, profesional, dan berkeadilan sehingga masyarakat memperoleh kejelasan mengenai fakta-fakta yang terjadi.
Selain itu, ia berharap seluruh tokoh adat, tokoh agama, pemerintah, aparat keamanan, akademisi, organisasi masyarakat, dan pemuda dapat mengambil peran sebagai jembatan perdamaian demi mencegah konflik yang lebih luas.
Sam Gobay mengingatkan bahwa masyarakat Papua memiliki ikatan persaudaraan yang kuat dan tidak boleh terus terpecah akibat konflik yang berkepanjangan.
Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan tragedi di Tolikara sebagai momentum memperkuat komitmen membangun Papua melalui dialog, keadilan, penghormatan terhadap hukum, serta perlindungan terhadap hak-hak masyarakat.
“Kita adalah satu keluarga besar di Tanah Papua. Jangan biarkan tanah leluhur kita terus dibasahi oleh darah saudara sendiri. Mari kita membangun Papua dengan semangat kasih, persaudaraan, saling menghormati, dan penyelesaian masalah melalui dialog. Itulah jalan terbaik untuk menghadirkan masa depan Papua yang damai, aman, dan sejahtera,” tutup Sam Gobay.
Pernyataan tersebut diharapkan menjadi seruan moral bagi seluruh pihak agar menahan diri, mengutamakan kemanusiaan, serta bersama-sama menciptakan situasi yang kondusif demi masa depan Papua yang lebih baik.
Disampaikan oleh:
Sam Gobay
Ketua Dewan Adat Suku Mee Papua Selatan


Tidak ada komentar