KPA Kabupaten Deiyai Resmi Dilantik: Langkah Baru Melawan HIV/AIDS

Avatar of LINTAS PAPUA TENGAH
LINTAS PAPUA TENGAH
9 Okt 2025 10:08
Kesehatan 0 254
6 menit membaca

Deiyai, Papua Tengah –

Di sebuah aula sederhana namun penuh makna, Aula BKPSDM Kabupaten Deiyai, sebuah momentum bersejarah terjadi pada Rabu, 8 Oktober 2025. Para tamu undangan yang hadir, mulai dari pejabat daerah, pimpinan OPD, tokoh masyarakat, hingga tenaga kesehatan, menyaksikan satu prosesi yang akan menjadi pijakan baru bagi perjuangan kemanusiaan: pelantikan pengurus Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Deiyai masa bakti 2025–2030.

Suasana hening berubah menjadi khidmat ketika Frenny Anouw, S.IP, Ketua KPA Provinsi Papua Tengah, berdiri di depan ruangan untuk mengambil sumpah dan melantik pengurus KPA Deiyai. Di hadapan Bupati Deiyai Melkianus Mote, ST, Plt Kepala Dinas Kesehatan Deiyai Mandos Mote, S.IP, serta sejumlah pimpinan OPD, sebuah komitmen diikrarkan. Komitmen itu sederhana, namun berat: bekerja sepenuh hati untuk menanggulangi bahaya HIV/AIDS yang terus menghantui masyarakat Deiyai.

Pelantikan ini bukan sekadar acara seremonial. Menurut Frenny Anouw, momen tersebut adalah yang pertama kalinya bagi Kabupaten Deiyai setelah KPA Provinsi Papua Tengah menerima mandat resmi dari Gubernur Papua Tengah untuk menata organisasi di tingkat kabupaten.

“Ini bukan hanya soal struktur organisasi, tetapi soal panggilan kemanusiaan. Kami hadir untuk bekerja, bukan sekadar nama di atas kertas,” tegas Frenny dalam sambutannya.

WhatsApp Image 2025 10 09 at 09.38.55 4ffe5ab8Kepengurusan baru ini dipimpin oleh Maksimus Pigai sebagai ketua, bersama sejumlah anggota yang terdiri dari para medis, aktivis, dan tokoh masyarakat. Mereka dipilih dengan harapan dapat menjadi motor penggerak bagi upaya bersama melawan HIV/AIDS di Deiyai.

Data terbaru yang dipublikasikan dalam acara tersebut membuat suasana ruangan sesaat terdiam. Sebanyak 261 orang di Kabupaten Deiyai telah terdata sebagai ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Angka ini tentu saja hanya gambaran awal, sebab diyakini masih banyak masyarakat yang belum terdata karena kurangnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan.

Fakta ini menjadi alarm serius. Deiyai, sebuah kabupaten dengan populasi relatif kecil di Papua Tengah, menghadapi tantangan besar. Bila tidak ditangani dengan cepat, virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh ini bisa menyebar lebih luas, menghancurkan generasi muda, dan menghambat pembangunan daerah.

Dalam arahannya, Frenny Anouw menekankan pentingnya pola kerja yang berbeda antara Dinas Kesehatan dan KPA. Ia mengibaratkan Dinas Kesehatan sebagai pihak yang “menunggu bola,” sementara KPA harus menjadi tim yang “menjemput bola.”

“Dinas Kesehatan menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan, tapi KPA harus aktif turun ke lapangan. KPA harus mendatangi kampung-kampung, sekolah, dan komunitas, memberikan edukasi dan pemahaman yang benar tentang HIV/AIDS,” katanya.

Model jemput bola ini diyakini akan lebih efektif, terutama di wilayah pedalaman yang akses informasinya terbatas. Melalui pendekatan langsung, masyarakat tidak hanya diberi pengetahuan tentang bahaya HIV/AIDS, tetapi juga didorong untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan sejak dini.

Bupati Deiyai, Melkianus Mote, ST, dalam sambutannya menyebut penanggulangan HIV/AIDS sebagai “pekerjaan mulia yang penuh tantangan.” Ia menyadari bahwa stigma sosial terhadap ODHA masih sangat tinggi, sehingga keberadaan KPA menjadi sangat penting untuk mengubah cara pandang masyarakat.

“Kami pemerintah daerah siap mendukung. Tetapi kami ingin melihat kerja nyata. Jika KPA mampu menunjukkan hasil dan kontribusi, pemerintah akan mengalokasikan dana hibah untuk mendukung program-programnya,” ujar Bupati Mote yang disambut tepuk tangan meriah.

Pernyataan tersebut menjadi motivasi sekaligus tantangan. Artinya, pengurus KPA harus bekerja sungguh-sungguh agar tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar memberi dampak nyata di masyarakat.

Isu penting lain yang diangkat dalam acara ini adalah tentang perlindungan kerja bagi pengurus KPA dan relawan di lapangan. Mulai tahun 2026, pemerintah daerah berencana mendaftarkan mereka ke dalam BPJS Ketenagakerjaan.

Langkah ini sangat signifikan. Banyak relawan KPA bekerja dalam risiko tinggi, menghadapi stigma sosial, bahkan kadang ancaman fisik. Dengan adanya perlindungan BPJS, mereka akan lebih tenang dalam melaksanakan tugas mulia ini.

Masalah terbesar dalam penanggulangan HIV/AIDS bukan hanya soal medis, tetapi juga stigma sosial. Banyak ODHA di Deiyai yang memilih menyembunyikan statusnya karena takut dikucilkan. Akibatnya, mereka terlambat mendapat pengobatan, bahkan bisa menularkan virus tanpa sadar.

Di sinilah peran KPA sangat vital. Pengurus baru harus mampu menghadapi stigma dengan edukasi yang persuasif. Mereka perlu meyakinkan masyarakat bahwa HIV/AIDS bukanlah kutukan, melainkan penyakit yang bisa dikendalikan dengan pengobatan dan gaya hidup sehat.

WhatsApp Image 2025 10 09 at 09.38.49 5ad353ffDalam pidatonya, Frenny Anouw menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam gerakan ini. Menurutnya, anak-anak muda adalah kelompok paling rentan sekaligus paling potensial menjadi agen perubahan.

“Jika generasi muda diberi pemahaman yang benar, mereka akan menjadi benteng pertama dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS. Mereka bisa mengubah pola pikir, memutus stigma, dan membawa harapan baru,” ujarnya.

Keterlibatan sekolah, pemuda gereja, dan komunitas mahasiswa akan menjadi salah satu fokus kerja KPA ke depan.

Setelah pelantikan selesai, suasana aula kembali ramai dengan diskusi kecil. Para pengurus saling menyalami, berfoto bersama, dan berbincang mengenai program awal yang harus segera dijalankan.

Beberapa program prioritas yang muncul dalam obrolan adalah:

  1. Sosialisasi massal di sekolah-sekolah dan kampung.
  2. Pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat di daerah pedalaman.
  3. Pelatihan kader desa untuk menjadi relawan KPA di tingkat lokal.
  4. Kolaborasi dengan gereja dan tokoh adat untuk memberikan dukungan moral dan spiritual.

Program-program ini diharapkan bisa segera dijalankan dalam waktu dekat, sebagai bukti bahwa KPA Deiyai tidak sekadar berdiri di atas kertas, melainkan benar-benar hadir untuk masyarakat.

Beberapa tenaga medis yang hadir mengungkapkan rasa syukur atas terbentuknya KPA Deiyai. “Selama ini kami kewalahan karena harus menangani banyak pasien ODHA tanpa dukungan struktural yang kuat. Dengan adanya KPA, kami berharap penanganan lebih terkoordinasi,” ujar salah seorang perawat yang enggan disebutkan namanya.

Sementara itu, seorang tokoh masyarakat Deiyai menegaskan bahwa edukasi harus dimulai dari rumah tangga. “Anak-anak harus diajarkan sejak dini tentang hidup sehat. Orang tua jangan tabu membicarakan hal-hal sensitif, karena kalau dibiarkan, anak-anak akan belajar dari jalan yang salah,” katanya.

Meski tantangan besar menanti, optimisme jelas terlihat dalam wajah para pengurus yang baru saja dilantik. Mereka sadar bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi keyakinan bahwa kerja keras akan membawa hasil membuat semangat mereka berkobar.

Bupati Mote menutup acara dengan sebuah doa sederhana: “Semoga Tuhan memberkati langkah kita semua dalam melawan penyakit ini. Jangan pernah lelah berbuat baik.”

Pelantikan Pengurus KPA Kabupaten Deiyai pada 8 Oktober 2025 ini bukanlah akhir, melainkan titik awal sebuah perjuangan panjang. Perjuangan untuk melawan HIV/AIDS, menghancurkan stigma, menyelamatkan generasi muda, dan mengubah cara pandang masyarakat terhadap sebuah penyakit yang selama ini dianggap tabu.

Kini bola ada di tangan pengurus KPA Deiyai. Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan Tuhan, mereka ditantang untuk membuktikan bahwa sebuah organisasi kecil di kabupaten pegunungan bisa memberikan dampak besar bagi kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, perjuangan ini bukan tentang gelar, bukan tentang jabatan, tetapi tentang menyelamatkan nyawa dan menyalakan harapan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x