Muktamar X PPP: Mardiono Kembali Nahkodai Partai Ka’bah

Avatar of LINTAS PAPUA TENGAH
LINTAS PAPUA TENGAH
9 Okt 2025 05:55
Politik 0 310
6 menit membaca

Babak Baru di Ancol

Partai Persatuan Pembangunan (PPP), partai berlambang Ka’bah yang lahir dari fusi empat organisasi Islam pada 1973, kembali menorehkan sejarah penting dalam perjalanan politiknya. Pada 27–29 September 2025, Hotel Mercure Ancol, Jakarta, menjadi saksi digelarnya Muktamar X PPP, forum tertinggi organisasi yang menyedot perhatian publik dan menimbulkan pro-kontra di internal partai.

Meski dinamika sempat menghangat, muktamar akhirnya menetapkan kembali H. Muhammad Mardiono sebagai Ketua Umum PPP periode 2025–2030. Keputusan ini tidak hanya membawa konsolidasi organisasi ke arah lebih solid, tetapi juga menandai komitmen baru untuk mengembalikan PPP pada khittah perjuangannya sebagai rumah besar umat Islam.

Gelaran Muktamar X tidak lepas dari perbedaan pendapat tajam antar-kubu. Sebagian kader menghendaki wajah baru demi regenerasi kepemimpinan. Mereka menilai, PPP membutuhkan strategi segar agar mampu merebut kembali hati rakyat pada Pemilu 2029. Namun di sisi lain, suara dukungan kepada Mardiono juga sangat dominan.

Mardiono dianggap mampu menjaga stabilitas partai saat menghadapi guncangan hukum dan politik. Meski PPP gagal lolos ambang batas parlemen pada Pemilu 2024, ia dipandang berhasil menghindarkan partai dari perpecahan lebih dalam. Maka, pemilihannya kembali sebagai Ketua Umum merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi, kesabaran, dan konsistensinya memimpin PPP di masa sulit.

Beberapa momen dalam muktamar bahkan diwarnai gesekan. Namun pada akhirnya, mekanisme organisasi berjalan demokratis. Mayoritas peserta menyepakati Mardiono kembali dipercaya memimpin lima tahun ke depan. Hal ini menunjukkan bahwa persatuan partai lebih penting daripada ambisi kelompok.

Dalam surat resminya pasca-muktamar, H. Muhammad Mardiono menegaskan bahwa Muktamar X telah menjadi momentum pemersatu dan peneguh komitmen seluruh kader PPP. Ia menyebut, perbedaan pendapat yang muncul selama forum adalah hal wajar, bahkan menjadi bagian dari pendewasaan politik.

“Perbedaan pendapat dalam organisasi adalah hal yang wajar. Perbedaan tidak boleh menjelma menjadi perpecahan. Kini saatnya kita menutup lembaran perbedaan dan membuka lembaran baru persaudaraan,” tegas Mardiono.

Ia juga mengingatkan seluruh kader untuk kembali dalam satu barisan perjuangan, menjadikan PPP sebagai partai Islam Rahmatan lil ‘Alamin yang bermanfaat bagi umat, bangsa, dan negara.

Mardiono mengutip Surah Ali Imran ayat 103 sebagai pedoman moral agar kader PPP berpegang teguh pada tali persaudaraan dan menjauhi perpecahan:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara.”

Ia menegaskan, PPP harus hadir bukan sekadar partai politik, tetapi gerakan sosial keumatan. PPP harus ada di masjid, pesantren, majelis taklim, kampus, pasar, dan seluruh ruang sosial rakyat. Partai ini harus kembali dikenal sebagai teladan politik berakhlak, menolak politik permusuhan, dan menghadirkan solusi atas problematika umat.

Dengan berakhirnya Muktamar X, seluruh proses konsolidasi organisasi dianggap tuntas. Surat resmi Ketua Umum menegaskan, kini saatnya membangun partai lebih modern, inklusif, dan produktif. Langkah itu meliputi:

  1. Penguatan kaderisasi untuk melahirkan generasi baru PPP yang kompeten dan loyal.
  2. Revitalisasi struktur partai agar lebih adaptif menghadapi perkembangan zaman.
  3. Peningkatan kapasitas politik kader, sehingga PPP mampu menjawab tantangan kompleks bangsa ke depan.

Dalam seruannya, Mardiono menekankan:

“Kita tidak boleh lagi terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif, apalagi perpecahan yang merugikan. PPP harus bangkit dengan energi baru yaitu energi persatuan dan pengabdian.”

Baginya, perbedaan pendapat adalah kekayaan, persaudaraan adalah kekuatan, dan pengabdian kepada umat adalah jalan menuju keberkahan.

WhatsApp Image 2024 08 06 at 08.20.29 121460c2Sebagai bagian dari keluarga besar PPP, DPW Papua Tengah menyatakan sikap tegas untuk mendukung keputusan Muktamar X. Albertus Keiya,Pengurus DPW PPP Papua Tengah, menyampaikan bahwa Papua Tengah siap mengamankan hasil muktamar dan menjalankan komitmen Ketua Umum terpilih.

“Bagi kami, pro-kontra itu wajar dalam dinamika politik. Namun keputusan muktamar adalah keputusan tertinggi partai. Tugas kami di Papua Tengah adalah mengawal dan mendukung penuh kepemimpinan H. Muhammad Mardiono untuk membawa PPP kembali berjaya,” ujarnya.

Ia menegaskan, Papua Tengah sebagai provinsi baru sangat membutuhkan partai politik yang kokoh untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat, memperkuat persatuan umat, sekaligus menjaga nilai kebangsaan di tengah kemajemukan.

DUKUNGAN MUH MARDIONO1Albertus menambahkan, DPW Papua Tengah siap melakukan konsolidasi internal. “Kami akan menyebarkan semangat muktamar hingga ke tingkat ranting. PPP Papua Tengah harus hadir di tengah umat sebagai penggerak perubahan. Kami ingin menunjukkan bahwa partai ini bukan hanya milik pusat, tetapi milik seluruh daerah, termasuk Papua Tengah,” tegasnya.

Meski muktamar telah membawa semangat baru, tantangan yang dihadapi PPP tetap berat. Beberapa di antaranya:

  • Mengembalikan basis massa tradisional: PPP harus kembali merangkul kalangan pesantren, umat Islam pedesaan, serta organisasi keagamaan yang selama ini menjadi tulang punggung.
  • Meningkatkan daya tarik generasi muda: PPP dituntut melakukan modernisasi komunikasi politik, memanfaatkan media digital, dan menampilkan tokoh-tokoh muda yang inspiratif.
  • Membangun koalisi strategis: Dalam politik nasional, PPP perlu menentukan sikap jelas: apakah tetap berada di lingkaran kekuasaan atau mengambil posisi sebagai penyeimbang.
  • Meningkatkan kemandirian finansial partai: PPP perlu membangun sistem pendanaan sehat agar tidak bergantung pada segelintir elit.
  • Mewujudkan kaderisasi berkelanjutan: Tanpa generasi penerus, PPP berisiko kehilangan relevansi.

Dalam konteks Papua Tengah, keberadaan PPP menjadi penting. Sebagai provinsi baru hasil pemekaran, daerah ini membutuhkan dukungan politik untuk mempercepat pembangunan. PPP dapat mengambil peran dengan mendorong kebijakan pro-rakyat, memperjuangkan pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi lokal.

Albertus Keiya menekankan bahwa Papua Tengah adalah lahan strategis bagi PPP untuk menunjukkan komitmen nasionalisme inklusif. “PPP harus menjadi rumah bagi semua, meski identitasnya partai Islam. Di Papua Tengah, keberagaman adalah kekuatan. Kami ingin PPP tampil sebagai perekat, bukan pemisah,” ucapnya.

Surat Mardiono ditutup dengan nada syukur dan doa yang dalam. Ia menegaskan agar kader menjaga partai dengan keikhlasan, membesarkan dengan kebersamaan, dan memperjuangkan dengan keteguhan hati.

“Semoga Allah SWT memberikan taufik, hidayah, dan keberkahan atas setiap langkah perjuangan kita. Mari kita rawat Partai Persatuan Pembangunan dengan keikhlasan, besarkan dengan kebersamaan, dan perjuangkan dengan keteguhan hati. Dengan semangat persaudaraan, pengabdian, dan keikhlasan, marilah kita bersama-sama mengembalikan PPP sebagai partai yang dicintai umat, diperhitungkan bangsa, dan diridhai Allah SWT.”

Doa penutup ini menjadi pengingat bahwa perjuangan politik bukan semata soal kekuasaan, melainkan juga soal nilai, keikhlasan, dan ibadah.

Muktamar X PPP di Ancol, meskipun sempat diwarnai pro-kontra, akhirnya menjadi momentum penting untuk rekonsiliasi. Terpilihnya kembali H. Muhammad Mardiono menandai babak baru perjuangan partai. Dengan konsolidasi nasional yang tuntas, harapan besar kini digantungkan pada langkah kolektif seluruh kader untuk mengembalikan marwah PPP.

Surat Ketua Umum pasca-muktamar menegaskan arah perjuangan: PPP sebagai partai Islam moderat, teladan, dan solutif. Dukungan penuh dari daerah-daerah, termasuk Papua Tengah, menjadi bukti bahwa partai ini siap bangkit dengan energi baru.

Seperti disampaikan Albertus Keiya, loyalitas pada keputusan muktamar adalah bentuk kedewasaan berpolitik sekaligus komitmen menjaga persatuan. Maka, dengan semangat persaudaraan, pengabdian, dan keikhlasan, PPP melangkah menuju masa depan, mengusung harapan besar: kembali dicintai umat, diperhitungkan bangsa, dan diridhai Allah SWT.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x